Oleh: tonz94 | 19/10/2009

MEDIA MASSA

DAMPAK MEDIA MASSA

Alam demokrasi memberikan kesempatan media massa menyampaikan informasi, menularkan gagasan, memberikan bimbingan, mengontrol penyimpangan-penyimpangan, termasuk mengawasi pejabat yang korupsi, menyampaikan kebijakan pemerintah. Di samping itu ada dampak-dampak negatif yang dapat diperbuat Alam demokrasi memberikan kesempatan media massa menyampaikan informasi, menularkan gagasan, memberikan bimbingan, mengontrol penyimpangan-penyimpangan, termasuk mengawasi pejabat yang korupsi, menyampaikan kebijakan pemerintah. Di samping itu ada dampak-dampak negatif yang dapat diperbuat melalui media massa.

Pimpinan media massa tentu menyadari bahwa kebebasan yang diberikan menuntut tanggung jawab yang melekat erat dengan tanggung jawab yang diberikan. Sudahkah semua penanggung jawab media massa melaksanakan tugas sesuai dengan harapan masyarakat? Masalah ini perlu kita renungkan bersama. Proses psikologi yang terjadi, yaitu fakta-fakta bahan informasi baik yang dapat dibaca maupun melalui televisi atau radio, akan membentuk persepsi pembaca maupun pendengarnya; mula-mula memberikan gambaran-gambaran yang menumpuk tersebut dibanding-bandingkan satu dengan yang lain, akhirnya merupakan persepsi yang lebih lengkap, mengandung gambaran dan penilaian tentang apa yang dilihat dan didengarnya. Kumpulan persepsi-persepsi tersebut dapat membentuk citranya yang dapat lebih lama memenuhi benak otaknya. Citra mengandung gambaran, penilaian, dan membayangkan sesuatu yang dianggap benar, jadi citra merupakan hasil dari berbagai persepsi yang dialami berkali-kali. Sebagai contoh tentang citra anak, dapat penulis paparkan sebagai berikut. Pada suatu tayangan TV terjadi wawancara di mana pewawancara menanyai seorang anak umur sekitar 13 tahun:.

Pewawancara (P): Bagaimana kesanmu tentang orang Amerika? Jawab anak: Kalau orang Amerika itu … semau gue …
(P): Bagaimana kesanmu tentang orang Jepang?
Jawab anak: Kalau orang Jepang itu … disiplin … semangat.
(P): Bagaimana kesanmu tentang orang China?
Jawab anak: Kalau orang China itu pandai dagang.
(P): Sekarang bagaimana kesanmu tentang orang Indonesia?
Jawab anak: … Wah … kalau orang Indonesia … itu … kacau …
Tentu saja penulis terhenyak mendengar jawaban anak yang masih polos tersebut. Jawaban anak yang masih murni dan polos tersebut, menggambarkan citra yang melekat dalam benaknya.

Terbentuknya Citra
Terbentuknya citra tidak terlepas dari persepsi, jadi citra anak tentang orang Indonesia tidak terlepas dari persepsinya sehari-hari melalui TV, membaca koran, dan mendengar berita di radio, sehingga persepsi tentang orang Indonesia yang negatif tersebut terbentuk, karena tiap hari mendengar tentang perkosaan, penyiksaan anak, pembunuhan, korupsi, dan sebagainya, sehingga kejadian-kejadian yang serba negatif tersebut menimbulkan kesimpulan bahwa di Indonesia banyak orang Indonesia yang berbuat negatif, bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku, baik nilai-nilai social maupun nilai agama yang dianut anak.
Betulkah jawaban anak, yang merupakan refleksi dari citra tersebut? Jawaban anak tersebut dapat dimengerti, karena hampir tiap hari mendengar atau dapat membaca berita-berita negatif. Berita positif yang dapat membanggakan bangsa Indonesia, seperti Taufik Hidayat berhasil merebut juara dunia, Chris John menjadi juara WBA, remaja kita berhasil dalam olimpiade fisika, dan sebagainya, tersisih dari perhatian anak, sehingga yang terkesan adalah berita yang serba negatif.

Berita-berita seperti perkosaan oleh ayah kandung, bunuh diri anak SD karena tidak dapat membayar uang sekolah, atau berita-berita sensasional biasanya lebih menarik perhatian pembaca atau pendengar warta berita, sehingga merupakan bahan persepsi yang dominan dan membentuk citra anak dan remaja. Media massa tentu bermaksud membeberkan suatu masalah dengan jelas, faktual, akurat, seperti apa adanya. Tetapi dampak-dampak psikologik yang terjadi, mungkin kurang mendapat perhatian, sebagai bahan pertimbangan patut dibeberkan atau ditayangkannya berita tersebut, sehingga dapat dibaca atau dilihat masyarakat yang tingkat pendidikan dan tingkat kedewasaannya tidak sama. Sesuai social learning theory maka yang terjadi di lingkungan sosial akan Official Website of Koalisi NGO HAM Aceh –http://koalisi-ham.org Powered by Joomla! Generated: 15 October, 2009, 12:21 merupakan masukan bagi perkembangan akal, perasaan, dan kehendaknya. Bagi anak dan remaja yang dalam taraf perkembangan menemukan nilai-nilai, sesuatu yang diketahui dari lingkungan dengan mudah akan ditirunya. Berita-berita sensasional telah menggusur cerita tentang kepahlawanan dan cerita-cerita yang membanggakan bangsa Indonesia, maka ilustrasi tentang citra anak bahwa orang Indonesia “kacau” merupakan bahan introspeksi kita semua, khususnya media massa yang ikut bertanggung jawab terhadap perkembangan masa depan bangsa Indonesia. Masalah lain yang perlu penulis singgung adalah dampak negatif dari berita dalam media massa, yang dapat menimbulkan demonstration effect pada masyarakat kita yang budayanya berbeda-beda, dan pada umumnya masih rendah tingkat pendidikannya. Sesuatu yang baru dan yang menarik perhatiannya dengan mudah akan ditiru, bahkan dampaknya akan lebih demonstratif, seperti masyarakat yang terisolasi dan baru pertama melihat wisatawan memakai pakaian you can see, maka remaja-remaja setempat juga akan merubah pakaiannya, memotong lengan baju pakaiannya, sehingga lebih you can see dari pada pakaian wisatawan wanita yang dilihatnya. Demonstration effect juga akan terjadi pada pemuda-pemudi kita yang dapat melihat nilai-nilai pergaulan Barat yang sangat bebas. Dalam film-film yang ditayangkan TV sering kita melihat adegan-adegan seks bebas yang dilakukan laki-laki dengan perempuan yang belum menikah. Meskipun pergaulan dan seks bebas tidak dilakukan semua pemuda dan pemudi Barat, tetapi bahaya demonstration effect bisa terjadi, sehingga sementara pemuda-pemudi kita menganggap berhubungan seks sebelum menikah sebagai hal yang biasa, yang menganggap sebagai hal yang tabu justru dianggap pandangan yang kuno. Budaya-budaya Barat yang ditayangkan TV akan dapat menimbulkan gegar budaya (cultural shock) terutama pada remaja dan pemuda yang dibesarkan dalam lingkungan tertutup, dan baru mengenal nilai-nilai budaya Barat, yang sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai budaya Indonesia. Contra Culture Budaya anak muda yang berbeda dengan budaya masyarakat, dapat berupa independent culture, yaitu budaya bebas yang tidak ada hubungan atau lepas dari budaya masyarakat, anak-anak muda sudah merasa cukup dewasa dan dapat memilih nilai-nilai yang dianggap cocok dan benar. Independent culture tidak selalu jelek, berbeda tetapi tidak selalu bertentangan dengan budaya masyarakat.

Memang budaya selalu berkembang, sehubungan itu anak-anak muda perlu dijadikan subjek untuk turut mengembangkan budaya, sehingga lebih sesuai dengan dinamika perkembangan masyarakat. Kriteria independent culture yang tidak sesuai dengan norma masyarakat, bukan satu-satunya ukuran tentang terjadinya penyimpangan, yang dapat menjadi ukuran yang lebih meyakinkan adalah norma-norma agama. Berbeda dengan independent culture, maka contra culture tidak hanya berbeda dengan budaya masyarakat setempat. Problema semacam ini perlu kita pelajari secara cermat, apakah budaya tradisional yang lama sudah usang dan perlu diganti yang baru, ataukah budaya anak-anak muda yang menyimpang dari budaya tradisional yang menyimpang dalam arti tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Ukuran baik atau buruknya contra culture harus dikembalikan pada norma agama. Kalau budaya anak muda jelas bertentangan dengan norma masyarakat, dan jelas pula bertentangan dengan norma agama, maka budaya anak muda tersebut harus dilarang. Media massa dapat ikut mengontrol dan mengawasi budaya anak muda yang bertentangan dengan norma sosial dan sekaligus bertentangan dengan norma agama. Contoh contra culture yang perlu segera dikontrol dan diawasi media massa adalah budaya seks bebas yang dewasa ini sudah ada beberapa tanda, adanya gejala yang bertentangan dengan norma masyarakat dan sekaligus juga bertentangan dengan norma agama. Perkembangan pornografi dan bahkan pornoaksi perlu segera diwaspadai karena gejala semacam ini jelas akan merusak tatanan sosial dan nilai-nilai agama. Sumber :http://koalisi-ham.org/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=29.


Kategori

%d blogger menyukai ini: